Rabu, 13 Maret 2013
HABITAT BARU "BURUNG BIDADARI (Semioptera wallacei)" DITEMUKAN DI HALMAHERA BARAT
1 Maret 2013, Tim Ekspedisi Gigisoro melakukan ekspedisi untuk mencari Habitat Burung Bidadari.
Kegiatan ini dilaksanakan sehubungan dengan keberadaan Habitat/Display burung Bidadari di kawasan hutan Tanah Putih sudah mulai terganggu dengan aktifitas manusia yang mengakibatkan aktifitas burung bidadari mulai berkurang.
Berdasarkan informasi pak Demianus Bagali (Om Anu) pernah ditemukan habitat burung bidadari di sekitar kawasan hutan lindung gunung Tabobo atau tepatnya di sekitar Gunung Gigisoro.
Tim Ekspedisi yang terdiri dari :
1. Rudi Suhendar (Dinas Kehutanan Kab. Halmahera Barat)
2. M. Lafran Abae (Dinas Kehutanan Kab. Halmahera Barat)
3. Demianus Bagali/Pak Anu (Guide Wisata Burung Tanah Putih)
4. 3 (tiga) Orang tenaga buruh dari Desa Domato Kec. Jailolo Selatan
Melakukan pencarian habitat sesuai informasi yang diberikan oleh Pak Anu selama 5 (lima) Hari
Hari 1
Kami memulai perjalanan dari Jailolo dengan menggunakan kendaraan (Mobil) ke HTI PT. TAIWI di sekitar Tanah Putih. Dari HTI dilanjutkan berjalan kaki sekitar 3 Jam untuk mencapai ke camp pertama (sungai paneke)
Hari 2
Pagi-pagi kami menuju ke lokasi yang diperkirakan terdapat habitat burung bidadari, namun tempat yang dulu pernah ditemukan habitat oleh Pak Anu, ternyata kami tidak menemukan tanda-tanda atau suara burung bidadari. Kami pun kembali ke Camp.
Sore hari kami mencoba menelusuri hutan dengan jarak sekitar 2,5 Km dari Camp untuk mencari habitat burung bidadari, dan akhirnya kami mendengar suara burung bidadari walau yang terdengar hanya 1 (satu) ekor, kami pun menandai tempat tersebut agar esok hari kami bisa kembali ke tempat tersebut.
Hari 3
Seperti biasa untuk menyaksikan pertunjukan burung bidadari kita harus menuju habitat sebelum jam 6.00 Pagi, maka jam 4.00 subuh kami melakukan perjalanan menuju tempat yang telah ditandai kemarin. Sesampainya ditempat tersebut (jam 6.00), ternyata kami tidak mendengar suara burung bidadari, walau masih gelap gulita kami terus menyusuri hutan untuk menemukan habitat burung bidadari, akhirnya kurang lebih 500 meter dari tempat pertama kami menemukan habitat burung bidadari. Kami sangat bersemangat walaupun agak terlambat karena bisa menyaksikan tarian dan nyanyian burung bidadari. Setelah kami amati ada 3 (tiga) tempat/display untuk melihat burung bidadari dengan jelas tanpa harus menggunakan teropong. Setelah kami rasa cukup dan karena waktu sudah menunjukan jam 8'00 dan burung bidadari pun sudah mulai meninggalkan habitat, maka kami pun kembali ke camp. Sebelum kembali ke Camp, kami meluangkan waktu untuk membuat tangga-tangga di pohon sekitar display dengan tujuan esok pagi kami bisa mengamati/mengambil photo burung dari atas pohon.
Karena camp di sungai Paneke agak jauh dari Habitat yang kami temukan, maka untuk memudahkan akses pengamatan, kamipun memutuskan untuk pindah camp ke tempat yang lebih dekat dengan habitat kurang lebih 1,5 Km dari camp sungai paneke atau kurang lebih 800 Meter dari Habitat.
Hari 4
Jam 5'00 Kami menuju Habitat dari Camp ke 2, waktu yang diperlukan untuk menuju habitat dari camp ke 2 cukup ditempuh dengan perjalan 20 menit dan medan yang dilewati pun cukup landai. Jam 5'30 kami sudah sampai di habitat, dan saya pun memanjat pohon yang telah dibuatkan tangga-tangga untuk mencoba mengabadikan burung bidadari walau dengan kamera pas-pasan.
Tepat jam 6'00 burung bidadari mulai bernyanyi dan menari di dekat saya sekitar 2-5 meter. Saya pun mencoba memotret burung bidadari, dan Alhamdulillah walau hasil jepretan kurang maksimal, tapi kami puas bisa menyaksikan tarian burung bidadari dari dekat. Jumlah burung bidadari di habitat ini diperkirakan mencapai 20 - 30 Ekor.
Hari 5.
Pagi-pagi, kami kembali mengamati aktifitas burung bidadari dan mencoba kembali untuk memotret burung, setelah puas kamipun kembali ke Camp dan setelah istirahat sejenak kami pun kembali pulang ke Jailolo, dengan perjalanan menuju arah Akelamo Kao (sungai kosidi).
Koordinat Habitat Burung Bidadari Kawasan Hutan Gunung Gigisoro adalah : N: 0 59 18.7 E: 127 35 26.1
Rute Menuju Habitat :
1. Dari Tanah Putih : Jalan Kaki sekitar 6-7 Jam menuju lokasi Camp/Bevak.
2. Dari S. Kosidi Akelamo Kao : Jalan kaki 2-3 Jam sampai di lokasi Camp/Bevak
3. Dari lokasi Camp/Bevak menuju Habitat 20-30 Menit.
Catatan :
1. Untuk mengamati burung bidadari di Gunung Gigisoro, harus menginap di Camp/Bevak sekitar habitat.
2. Selain burung bidadari, terdapat hampir semua burung endemik Halmahera/Maluku Utara (Burung Nuri, Kaka Tua Putih, Julang Irian, Pitta, Pergam, Bubut Goliath, Burung Malam/Hantu dll)
Bagi yang berminat berwisata burung di alam (Kawasan Hutan Gunung Gigisoro) hubungi : Rudi Suhendar / Phone : 081340477904 atau Email : Suhendar.rudi@Gmail.com.
Kegiatan ini dilaksanakan sehubungan dengan keberadaan Habitat/Display burung Bidadari di kawasan hutan Tanah Putih sudah mulai terganggu dengan aktifitas manusia yang mengakibatkan aktifitas burung bidadari mulai berkurang.
Berdasarkan informasi pak Demianus Bagali (Om Anu) pernah ditemukan habitat burung bidadari di sekitar kawasan hutan lindung gunung Tabobo atau tepatnya di sekitar Gunung Gigisoro.
Tim Ekspedisi yang terdiri dari :
1. Rudi Suhendar (Dinas Kehutanan Kab. Halmahera Barat)
2. M. Lafran Abae (Dinas Kehutanan Kab. Halmahera Barat)
3. Demianus Bagali/Pak Anu (Guide Wisata Burung Tanah Putih)
4. 3 (tiga) Orang tenaga buruh dari Desa Domato Kec. Jailolo Selatan
Melakukan pencarian habitat sesuai informasi yang diberikan oleh Pak Anu selama 5 (lima) Hari
Hari 1
Kami memulai perjalanan dari Jailolo dengan menggunakan kendaraan (Mobil) ke HTI PT. TAIWI di sekitar Tanah Putih. Dari HTI dilanjutkan berjalan kaki sekitar 3 Jam untuk mencapai ke camp pertama (sungai paneke)
Hari 2
Pagi-pagi kami menuju ke lokasi yang diperkirakan terdapat habitat burung bidadari, namun tempat yang dulu pernah ditemukan habitat oleh Pak Anu, ternyata kami tidak menemukan tanda-tanda atau suara burung bidadari. Kami pun kembali ke Camp.
Sore hari kami mencoba menelusuri hutan dengan jarak sekitar 2,5 Km dari Camp untuk mencari habitat burung bidadari, dan akhirnya kami mendengar suara burung bidadari walau yang terdengar hanya 1 (satu) ekor, kami pun menandai tempat tersebut agar esok hari kami bisa kembali ke tempat tersebut.
Hari 3
Seperti biasa untuk menyaksikan pertunjukan burung bidadari kita harus menuju habitat sebelum jam 6.00 Pagi, maka jam 4.00 subuh kami melakukan perjalanan menuju tempat yang telah ditandai kemarin. Sesampainya ditempat tersebut (jam 6.00), ternyata kami tidak mendengar suara burung bidadari, walau masih gelap gulita kami terus menyusuri hutan untuk menemukan habitat burung bidadari, akhirnya kurang lebih 500 meter dari tempat pertama kami menemukan habitat burung bidadari. Kami sangat bersemangat walaupun agak terlambat karena bisa menyaksikan tarian dan nyanyian burung bidadari. Setelah kami amati ada 3 (tiga) tempat/display untuk melihat burung bidadari dengan jelas tanpa harus menggunakan teropong. Setelah kami rasa cukup dan karena waktu sudah menunjukan jam 8'00 dan burung bidadari pun sudah mulai meninggalkan habitat, maka kami pun kembali ke camp. Sebelum kembali ke Camp, kami meluangkan waktu untuk membuat tangga-tangga di pohon sekitar display dengan tujuan esok pagi kami bisa mengamati/mengambil photo burung dari atas pohon.
Karena camp di sungai Paneke agak jauh dari Habitat yang kami temukan, maka untuk memudahkan akses pengamatan, kamipun memutuskan untuk pindah camp ke tempat yang lebih dekat dengan habitat kurang lebih 1,5 Km dari camp sungai paneke atau kurang lebih 800 Meter dari Habitat.
Hari 4
Jam 5'00 Kami menuju Habitat dari Camp ke 2, waktu yang diperlukan untuk menuju habitat dari camp ke 2 cukup ditempuh dengan perjalan 20 menit dan medan yang dilewati pun cukup landai. Jam 5'30 kami sudah sampai di habitat, dan saya pun memanjat pohon yang telah dibuatkan tangga-tangga untuk mencoba mengabadikan burung bidadari walau dengan kamera pas-pasan.
Tepat jam 6'00 burung bidadari mulai bernyanyi dan menari di dekat saya sekitar 2-5 meter. Saya pun mencoba memotret burung bidadari, dan Alhamdulillah walau hasil jepretan kurang maksimal, tapi kami puas bisa menyaksikan tarian burung bidadari dari dekat. Jumlah burung bidadari di habitat ini diperkirakan mencapai 20 - 30 Ekor.
Hari 5.
Pagi-pagi, kami kembali mengamati aktifitas burung bidadari dan mencoba kembali untuk memotret burung, setelah puas kamipun kembali ke Camp dan setelah istirahat sejenak kami pun kembali pulang ke Jailolo, dengan perjalanan menuju arah Akelamo Kao (sungai kosidi).
Koordinat Habitat Burung Bidadari Kawasan Hutan Gunung Gigisoro adalah : N: 0 59 18.7 E: 127 35 26.1
Rute Menuju Habitat :
1. Dari Tanah Putih : Jalan Kaki sekitar 6-7 Jam menuju lokasi Camp/Bevak.
2. Dari S. Kosidi Akelamo Kao : Jalan kaki 2-3 Jam sampai di lokasi Camp/Bevak
3. Dari lokasi Camp/Bevak menuju Habitat 20-30 Menit.
Catatan :
1. Untuk mengamati burung bidadari di Gunung Gigisoro, harus menginap di Camp/Bevak sekitar habitat.
2. Selain burung bidadari, terdapat hampir semua burung endemik Halmahera/Maluku Utara (Burung Nuri, Kaka Tua Putih, Julang Irian, Pitta, Pergam, Bubut Goliath, Burung Malam/Hantu dll)
Bagi yang berminat berwisata burung di alam (Kawasan Hutan Gunung Gigisoro) hubungi : Rudi Suhendar / Phone : 081340477904 atau Email : Suhendar.rudi@Gmail.com.
Rabu, 28 November 2012
Minggu, 03 Juni 2012
Guesthouse di Kali Batu Putih
Seiring dengan seringnya dikunjungi wisatawasan lokal maupun mancanegara khususnya para pecinta burung, maka untuk memberikan pelayanan bagi para pengunujung Kali Batu Putih, Dinas Kehutanan Kabupaten Halmahera Barat telah membangun pos Jagawana.
Keberadaan Pos Jagawana ini, disamping sebagai pos pengamanan kawasan Kali Batu Putih, juga digunakan sebagai tempat menginap bagi para pengunjung.
Terdapat 2 (dua) Kamar dengan ukuran 3x3 Meter dan 3x4 Meter yang disediakan untuk pengunjung. Walaupun belum tersedianya fasilitas didalamnya, namun keberadaan pos jagawana/guesthouse ini diharapkan dapat memberikan kenyamanan bagi para pengunjung.
Tentunya karena keterbatasan anggaran, maka untuk pengadaan fasilitas didalamnya, diharapkan kerelaan para pengunjung yang menginap di pos/guesthouse untuk memberikan bantuan dalam bentuk biaya nginap.
Semoga keberadaan guesthouse di Kali Batu Putih dapat memberikan kenyamanan dan terima kasih atas partisifasi dan bantuannya.
Profil
DEMIANUS BAGALI (ANU) DAN DUNIA BURUNG
MALUKU UTARA
Hanya ada empat nama orang
Indonesia yang disebut dalam buku A Guide to The Birds of Wallacea.
Salah satunya adalah Anu, sapaan Demianus Bagali (49). Pria kelahiran Domato Kec. Jailolo Selatan Kab. Halmahera Barat, menjadi
narasumber penting dalam penelitian dan konservasi burung-burung di kawasan
Maluku Utara.
Anu mulai belajar tentang
dunia burung sejak tahun 1982, saat menjadi asisten David Bishop, salah satu
penulis buku panduan burung-burung wallacea itu. Awalnya, tugas Anu hanya
mengantar ke lokasi-lokasi pengamatan burung di Pulau Halmahera. Pekerjaan yang
ringan dengan upah yang lumayan untuk ukuran waktu itu, Rp 5.000 per hari.
"Tetapi, saya sempat
malas karena kerjanya hanya jalan-jalan saja. Tidak ada tugas lain. Kalau David
Bishop mengamati burung, saya tiduran," tutur Anu mengenang.
Ia memutuskan bertahan
karena David Bishop sangat sabar dan telaten mengajarinya nama-nama spesies
burung dalam bahasa Inggris. Anu mulai tertarik dengan kegiatan barunya itu,
yang lebih menantang secara intelektual dibandingkan profesi sebelumnya sebagai
operator gergaji mesin pada sebuah perusahaan pemilik HPH.
Dua tahun kemudian, ia
mulai fasih menyebut nama burung- burung di sekitar Sidangoli, Tobelo dan
Galela. Ia pun aktif dalam pembuatan film tentang burung wallacea pada 1984.
Tahun 1986, David Bishop
memercayakan survei burung di habitat-habitat baru kepada Anu. Ia diajari cara
merekam suara burung, membuat sket, dan teknik pengamatan burung. Ia kemudian
berjalan sendiri untuk survei burung-burung berkeliling Pulau Halmahera.
Senjatanya adalah teropong,
alat perekam suara, buku, dan pena. Ia menembus hutan dengan metode transek
untuk mencari berbagai macam burung. Setiap burung dibuat sketnya lengkap
dengan deskripsi warna bulu, paruh, kaki, ukuran tubuh, kondisi habitat, dan
topografi lokasi pengamatan.
Pekerjaan Anu ini mirip
dengan tugas Ali, asisten Alfred Russel Wallace (1823-1913), saat meneliti
kekayaan alam Indonesia. Tugas yang kelihatannya sepele tetapi menumbuhkan rasa
kecintaan terhadap alam dan kehidupan liar di dalamnya.
"Saya melakukan survei
hingga tahun 1995, dan menemukan 114 jenis burung, 24 di antaranya endemik
Maluku dan empat endemik Halmahera," tutur Anu.
Ia fasih sekali menyebutkan
nama keempat burung endemik Halmahera, yaitu Dusky Brown Oriele, Halmahera
Cockoo Shrike, Drummer Rail, dan Dusky Friarbird. Semua yang disebutkan itu
cocok dengan isi buku panduan.
Survei habitat
Pengetahuan Anu tentang
keanekaragaman burung di Maluku Utara, khususnya Halmahera, menarik Bird Life
International untuk mengontraknya. Ia kemudian ditugaskan untuk menyurvei
habitat burung di hutan Aketajawe dan Lolobata.
Hasilnya, di dalam hutan itu ditemukan semua burung wallacea di Maluku Utara. Data itulah yang menjadi salah satu pendorong terbentuknya Taman Nasional Aketajawe Lolobata pada tahun 2003.
Hasilnya, di dalam hutan itu ditemukan semua burung wallacea di Maluku Utara. Data itulah yang menjadi salah satu pendorong terbentuknya Taman Nasional Aketajawe Lolobata pada tahun 2003.
Tahun 1997 buku A Guide to
The Birds of Wallacea diterbitkan. Buku ini memuat sket, nama, dan deskripsi
burung-burung di kawasan wallacea yang meliputi Nusa Tenggara, Sulawesi,
Maluku, dan Maluku Utara. Pada tahun yang sama, Anu diajak oleh para peneliti
dari Norwegia untuk meneliti keanekaragaman elang di Halmahera.
Seiring dengan makin
dikenalnya kekayaan alam Halmahera, banyak tamu-tamu dari luar negeri yang
berkunjung. Mereka adalah para penikmat keindahan burung di alam bebas.
Rombongan yang rutin berkunjung adalah organisasi King Bird Tour dari Amerika
Serikat dan Birdquest Tour dari Inggris.
Peluang itu dimanfaatkan
Anu untuk usaha wisata sekaligus mendukung konservasi. Ia kemudian menjadi
pemandu wisata secara mandiri. Para tamu pun disediakan pondok-pondok sederhana
untuk istirahat.
"Sebenarnya, saya
membuat pondok-pondok di hutan itu untuk menjaga burung. Saya tinggal di sana
supaya tidak ada orang yang mengganggu burung. Kalau ada yang jaga, orang tidak
berani berburu burung di sini," ujar Anu yang memilih tinggal di hutan
sejak tahun 1989.
Kegiatan wisata ini
digunakan Anu untuk menarik anak-anak muda ikut menjaga hutan. Mereka diajarkan
menjadi pemandu wisata pengamatan burung dan dibayar saat ada tamu. Keuntungan
ekonomi ini yang menjadikan masyarakat di sekitar hutan mau menjaga burung.
Pengaderan ini dilakukan di Sidangoli, Labi-labi, Weda, dan Buli.
"Kader yang saya ajari
memang belum banyak. Tetapi, mereka bisa menjadi contoh bagi warga di
sekitarnya untuk menjaga hutan dan burung-burung," kata Anu.
Saat ini, Anu tinggal di pondok kayu beratap
daun, di hutan Kali Batu Putih, Domato, Jailolo Selatan. Di pondok itulah
tamu-tamunya biasa menginap. Kawasan hutan itu ia jaga sejak tahun 2004.
Senin, 28 Mei 2012
Beberapa Burung Yang dapat dilihat di Kali Batu Putih
1.
Moluccan Goshawk / Elang-alap halmahera
Accipiter henicogrammus
2.
Rufous-necked Sparrow-hawk / Elang-alap maluku
Accipiter erythrauchen
3.
Dusky
Scrubfowl / Gosong kelam Megapodius freycinet
4.
Scarlet-breasted
Fruit-dove / Walik dada-merah Ptilinopus bernsteinii
5.
Blue-capped
Fruit-dove / Walik topi-biru Ptilinopus monacha
6.
Grey-headed
Fruit-dove / Walik kepala-kelabu Ptilinopus
hyogastrus
7.
White-eyed
Imperial Pigeon / Pergam mata-putih Ducula perspicillata
8.
Spice Imperial
Pigeon / Pergam rempah Ducula myristicivora
9.
Cinnamon-bellied
Imperial Pigeon / Pergam boke Ducula basilica
10.
Violet-necked
Lory / Nuri
kalung-ungu Eos squamata
11.
Chattering
Lory / Kasturi
ternate Lorius garrulus
12.
White
Cockatoo / Kakatua putih Cacatua alba
13.
Moluccan
Hanging-Parot / Serindit maluku Loriculus amabilis
14.
Moluccan
Cuckoo / Wiwik maluku Cacomantis heinrichi
15.
Goliath
Caucal / Bubut goliath Centropus goliath
16.
Moluccan
Boobook / Punggok maluku Ninox squamipila
17.
Moluccan
Owlet-nightjar / Atoku maluku Aegotheles
crinifrons
18.
Blue-and
white Kingfisher / Cekakak biru-putih Todiramphus diops
19.
Sombre
Kingfisher / Cekakak murung Todiramphus funebris
20.
Cammon
Dollarbird / Tiong-lampu ungu Eurystomus azureus
21.
Moluccan
Cuckoo-shrike / Kepudang-sungu maluku Coracina atriceps
22.
Halmahera
Cuckoo-shrike / Kepudang-sungu halmahera Coracina parvula
23.
Rufous-bellied
Triller / Kapasan halmahera Lalage aurea
24.
Dusky
Oriole / Kepudang halmahera Oriolus phaeochromus
25.
Long-billed
Crow / Gagak halmahera Corvus validus
26.
Standardwing
/ Bidadari
halmahera Semioptera wallacei
27.
White-naped
Monarch / Kehicap tengkuk-putih Monarcha
pileatus
28.
Dark-grey
Flycatcher / Sikatan kelabu Myiagra galeata
29.
Fla-breasted
Flowerpecker / Cabai dada-api Dicaeum erythrothorax
30.
Cream-thr=oated
White Eya / Kacamata halmahera Zosterops atriceps
31.
Whita-streaked
Friarbird / Cikukua halmahera Melitograis gilolensis
32.
Dusky Friarbird / Cikukua hitam Philemon fuscicapillus
Dan lain-lain
Langganan:
Postingan (Atom)








